MUI Turun Tangan Tanggapi Pengobatan lewat Batu Ponari dan Siti Nurrohmah

February 23, 2009 by cuwiell · 2 Comments
Filed under: Lain-lain 
JOMBANG - Kalangan ulama Jombang mulai resah dengan praktik pengobatan supranatural yang marak di kota santri itu. Kemarin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat mulai turun tangan.

Langkah pertama MUI, mereka mendatangi praktik pengobatan dengan menggunakan media batu milik Siti Nurrohmah (35), di Perumahan Tambakrejo Asri, Kecamatan Jombang. Mereka memberikan pencerahan terhadap ribuan pasien yang ngantre meminta kesembuhan melalui batu yang dicelupkan ke dalam air mineral, seperti praktik yang dilakukan Ponari.

Langkah yang dilakukan MUI ini, untuk menghindarkan masyarakat dari syirik. Selama ini, calon pasien lebih melihat batu “sakti” tersebut ketimbang Tuhan yang memberikan kesembuhan atas umatnya. Sekitar 20 menit, salah satu pengurus MUI Jombang, Abdul Kholiq memberikan wejangan kepada pasien yang siap dilayani Nurrohmah.

Dia menyakinkan kepada para pasien, jika kesembuhan itu berasal dari Allah SWT, bukan dari batu yang dipakai sebagai media pengobatan ini. Kholiq meminta agar para pasien menata niat sebelum menjalani pengobatan. “Niatnya harus meminta kesembuhan dar Allah SWT, bukan dari batu. Ponari, Nurrohmah, dan batunya itu, hanya media untuk mendapatkan kesembuhan dari tuhan,” tegas Abdul Kholiq, Minggu (22/2/2009).

Dia juga mengingatkan, jika pasien salah niat dan menilai jika letak kesembuhan itu berasal dari batu dan sang dukun, maka bisa dikategorikan sebagai perilaku yang syirik. Untuk itu, ia meminta kepada para pasien untuk kembali menata niat sebelum ngantre satu per satu ke Nurrohmah.

“Bukan hanya ke pengobatan supranatural saja. Jika pasien ke dokter dan menilai jika kesembuhan itu berasal dari dokter dan obat yang diberikan, itu juga namanya syirik,” tandas pengasuh Pondok Pesantren Al Wardiyah, Tambak Beras, Jombang ini.

Kendati telah memberikan peringatan keras, namun ia mengaku tak bisa mencegah para pasien yang berikthiar mencari kesembihan melalui cara pengobatan supranatural seperti ini. Menurutnya, sah-sah saja jika masyarakat mencari kesembuhan dengan cara mereka sendiri.

“Kita tak mungkin bisa menutup lokasi pengobatan ini, karena kami tak punya wewenang. Tugas kami hanya mengingatkan umat agar tak menuju ke jalan syirik itu sendiri. Kalau soal penutupan, itu hak pemerintah,” kata pengurus MUI Jombang yang menjabat sebagai Ketua I ini.

Selain memberikan peringatan kepada calon pasien, ia juga meminta kepada panitia untuk memasang spanduk yang berisi imbauan di sekitar lokasi parktik. Tujuannya kata dia, agar masyarakat tak terjebak dengan ha-hal yang berbau syirik. “Intinya, harus berhati-hati,” tandasnya.

Dia juga meminta kepada panitia dan aparat keamanan untuk menjaga lokasi ini dari kemungkinan terburuk, misalnya ada pasien yang tewas di lokasi akibat berdesakan saat ngantre, seperti yang terjadi di tempat praktik Ponari beberapa waktu lalu. Menurutnya, pasien juga harus diberikan jaminan keamanan.

“Jangan sampai ada yang tewas lagi. Karena mereka ini ingin sembuh, bukan malah tewas saat mencari kesembuhan,” ingatnya lagi.

Tak hanya lokasi praktik Siti Nurrohmah saja yang sempat dikunjungi MUI. Menurutnya, beberapa hari lalu pihaknya juga mendatangi praktik di rumah Ponari, di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh. MUI pun melakukan hal sama, yakni mengingatkan para pasien dan warga setempat agar tak enilai jika Ponari-lah penyebab kesembuhan itu.

“Sudah kami lakukan hal yang sama di tempat praktik Ponari,” pungkasnya sembari menyebut jika ulama lain perlu duduk bersama membahas masalah ini.

Salah satu panitia pengobatan di rumah Ponari, Didik Suryanto, 32, mengaku sepakat jika memang ada fatwa MUI yang mengharuskan praktk ini ditutup. Namun menurutnya, MUI harus terjun langsung utuk melihat lokasi dan cara pengobatanya. “Kami sepakat saja. Dan kami juga sedang menunggu imbauan MUI itu,” terang Didik, sekretaris panitia.

Namun demikian, ia juga meminta MUI untuk memberikan solusi atas membeludaknya calon pasien yang terus memadati desanya itu. Karena selama ini, panitia sudah tak mampu lagi membendung banyaknya pasien yang kebanyakan datang dari luar kota Jombang itu.

“Harus ada solusi yang tegas juga. Jangan hanya meminta ditutup,” tegasnya.

Kekhawatiran yang sama juga diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid. Adik kandung mantan presiden KH Abdurrahman Wahid ini juga mengaku tak yakin jika semua pasien pengoban dengan cara ini bisa sembuh. Lantaran belum adanya kepastian kesembuhan itu, perlu adanya penelitian mengenai air yang sudah “dijampi-jampi” oleh Ponari dan beberapa dukun tiban lainnya.

“Harus ada tim yang melakukan penelitian. Dan hasil penelitian itu disampaikan apa adanya, apakah air itu bisa menyembuhkan atau tidak. Nanti terserah masyarakat yang menilai. Kami juga khawatir jika masyarakat sudah mulai mendekati hal-hal yang syirik dengan pengobatan seperti ini,” tukas Gus Sholah, panggilan akrab KH Salahuddin Wahid saat ditemui di Ponpes Tebuireng.

Dia juga mengaku tak berhak melarang, apalagi menutup lokasi pengobatan itu. Pasalnya, masyarakat juga memiliki hak untuk mencari kesembuhan atas penyakit yang diderita. Hanya saja kata dia, masyarakat harus berhati-hati jika langkah mereka itu justru bertentangan dengan ajaran yang dianut.

“Secara pribadi, saya tak tertarik mengunjungi praktik pengobatan ini. Meski diakui atau tidak, penyembuhan seperti ini sudah ratusan tahun dipercaya masyarakat sebelumya. Dan ulama, harus memberikan penyadaran,” cetus mantan calon wakil presiden RI pada Pilpres tahun 2004 ini.

Dia juga meminta agar ada strategi khusus agar keamanan para pasien bisa dijamin, agar tak ada lagi pasien yang meninggal dunia d lokasi pengobatan lantaran berdesakan dengan pasien lainnya. Jika ternyata melalui penelitian didapati hasil bahwa air Ponari itu bisa menyembuhkan, perlu ada metode pembagian air yang aman.

“Bisa juga dibuat dalam kemasan. Dan dijual dengan bebas, tanpa harus ada eksploitasi tenaga Ponari sendiri yang butuh sekolah,” cetusnya lagi.

Ketua Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PB NU), Hasyim Muzadi, justru menilai jika fenomena membeludaknya pasien Ponari ini sebagai cermin jika layanan kesehatan yang diberikan pemerintah selama ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehingga, mereka lebih memilih model pengobatan non formal seperti “produk” Ponari itu.

“Saya tidak bisa bilang jika pemerintah gagal. Tapi, pemenuhan kesehatan itu yang masih belum berimbang. Masyarakat yang demikian itu, karena tak punya biaya,” tegas Hasyim Muzadi, usai menghadiri wisuda sarjana dan pasca sarjana di Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang.

Dia juga mengaku, NU sendiri tak bisa melakukan imbauan penutupan di lokasi pengobatan supranatural itu. Hanya saja kata dia, harus ada pengaturan agar pengobatan itu tak menimbulkan syirik dan memberikan jaminan keamanan bagi para pasiennya. “Masyarakat punya hak untuk berobat. NU tak bisa melarang,” katanya.

Sementara praktik di lokasi Ponari kemarin, diwarnai keributan beberapa saat. Ratusan calon pasien mendatangi rumah Kepala Desa Balongsari Nila Retno. Mereka menuntut kades untuk membuka kembali loket pembelian kupon yang ditutup secara darurat oleh panitia. Namun, calon pasien itu harus menelan kekecewaan lantaran orang nomor satu di desa tersebut tak berada di rumahnya.

Penutupan loket secara darurat itu kata Mukhlison, salah satu panitia, lantaran ada keributan saat ribuan calon pasien antre membeli kupon di kantor balai desa setempat. Salah satu warga yang tak dikenal identitasnya, tiba-tiba menyerobot ke barisan pengantre, tanpa ikut antre.

“Mungkin, orang ini adalah tukang ojek yang membelikan kupon penumpangnya. Dan karena ulah dia itu, warga lainnya jadi tak mau antre. Terpaksa tiket kupon untuk pengobatan hari Selasa kami tutup,” terang Mukhlison saat dihubungi.

Dia juga tak bisa memastikan kapan loket kupon itu akan dibuka kembali. Hanya saja kata dia, phaknya menunggu situasi kondusif. “Padahal saat loket kami tutup, kupon baru terjual 1.500 lembar,” tukasnya.

HasilBlog on Facebook


Subscribe to hasilblog.com|Panduan belajar blog gratisRSS FeedSubscribe to hasilblog.com|Panduan belajar blog gratisComments Technorati Profile

This site employs the Wavatars plugin by Shamus Young.